Pendidikan

Al-Qur’an Sumber Kebahagiaan Dunia Akhirat

129

Kehidupan yang bahagia adalah impan setiap insan. Maka oleh karena itu, tidak sedikit orang-orang yang bekerja keras untuk meraihnya dan tidak sedkit mereka berangkat bekerja petang sampai pulang petang lagi. Tanpa di sadari ternyata banyak di antara manusia yang berdalih mencari rizki untuk kehidupan yang lebih baik, tenang dan bahagia, tapi justru melupakan sumber dari kebahagiaan itu sendiri.

Pertanyaanya apa itu sumber segala kebahagiaan dan bagaimana cara meraihnya? Jawabannya adalah dekat dengan Allah swt sang pencipta karena Dialah yang memberikan rizki kepada seluruh makhluknya yang berada di alam semesta ini, dan cara yang paling jitu untuk mendekatkan diri dengan-Nya adalah dengan memperbanyak membaca kalam-Nya (Al-Qur’an). Sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah saw:

Gunakan KUPON : DISKONQU (untuk mendapatkan diskon)
Gunakan KUPON : DISKONQU (untuk mendapatkan diskon)

عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَبِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: تَقَرَّبْ مَا اسْتَطَعْتَ، وَاعْلَمْ أَنَّكَ لَنْ تَتَقَرَّبَ إِلَى اللهِ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ كَلَامِهِ. أثر صحيح رواه البيهقي في كتابه شعب الإيمان.

Dari Khabbab bin al-Aratt RA, bahwasanya ia berkata: “Beribadahlah kepada Allah SWT semampumu! Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya kamu tidak akan beribadah kepada Allah SWT dengan sesuatu yang lebih dicintai-Nya dibandingkan (membaca) kalam- Nya.” (Atsar sahih diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’abu al-Iman).[1]

Ketika seseorang dekat dengan seorang raja atau presiden tentu ia akan merasa bahagia dan bangga, karena bisa saja ketika ia meminta bantuan maka sang raja atau presiden akan membantunya. Bagaimana jika seseorang dekat dengan sang pemilik alam semesta ini, tentu kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Karena, jika Allah berkehendak maka jadilah dan mudahlah segala urusan. Bahkan al-Qurthubi menjelaskan keistimewaan lannya di dalam tafsirnya:

إِنَّ اللّٰهَ يُرِيْدُ الْعَذَابَ بِأَهْلِ الْأَرْضِ فَإِذَا سَمِعَ تَعْلِيْمَ الْمُعَلّمِ الصِّبْيَان الْحِكْمَةِ صَرَفَ ذٰلِكَ عَنْهُمْ، قَالَ مَرْوَان بِالْحِكْمَةِ الْقُرْآن

Sesungguhnya ketika Allah ingin menimpakan adzan kepada penduduk bumi, kemudian terdengar suara pendidikan Al-Hikmah kepada anak-anak maka Allah palingkan adzan itu darinya, Marwan mengatakan yang dimaksud Al-Hikmah adalah Al-Qur’an.[2]

Al-Mutawalli asy-Sya’rawi seorang mufassir pernah menyampaikan bahwa segala sesuatu jika ditinggalkan pasti akan rusak. Sebagaimana rumah jika ditinggalkan akan rusak, tapi jika al-Qur’an yang ditinggalkan, bukan al-Qur’annya yang akan rusak melainkan seseorang yang meninggalkannya yang akan rusak. Mengapa demikian, karena ia meninggalkan pedoman menuju kebahagiaan dunia dan akhirat yakni al-Qur’an sehingga hidupnya akan menjadi sempit baik di dunia dan akhirat. Dalam firman-Nya disampaikan:

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيْشَةً ضَنْكًا

Siapa yang berpaling yaitu dengan tidak meyakini dan mengimani al-Qur’an. Maka, baginya kehidupan yang sempit. (Q.S. Thaha[20]: 127).[3]

Hati adalah panglima dari seluruh anggota tubuh manusia dan seluruh anggota tubuh sebagai prajurit akan mengikuti perintah panglimanya. Apabila panglimanya baik maka akan baik seluruh prajuritnya dan apabila buruk maka buruk pula prajuritnya. Rasulullah saw pernah bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ.  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

“Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda, Ingatlah, bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging; jika baik, maka seluruh tubuh menjadi baik dan jika rusak, maka seluruh tubuh menjadi rusak pula, yaitu hati.” (Muttafaq Alaihi).[4]

Oleh karen itu, rawatlah hati dengan al-Qur’an. Karena dengan al-Qur’an hati akan terpenuhi nutrisinya dan jika sudah terpenuhi nutrisinya maka akan bahagialah seseorang. Sesungguhnya manusia yang mencari kebahagiaan selain kepada al-Qur’an seperti ikan yang mencari kebahagiaan di daratan.

Allah swt mengingatkan umat manusia akan kejadian nenek moyang manusia yaitu nabi Adam yang tergoda oleh tipu muslihat Iblis, tepatnya pada Q.S. Thaha: 124

قَالَ ٱهۡبِطَا مِنۡهَا جَمِيعَۢاۖ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوّٞۖ فَإِمَّا يَأۡتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشۡقَىٰ  

Allah berfirman, Turunlah kalian berdua dari surga dan sebagian kalian akan menjadi musuh dengan sebagian yang lainnya diseabkan karena sebuah kedzaliman, maka jika datang petunjuk-Ku dan siapa yang mengkutinya (Al-Qur’an) maka ia tidak akan tersesat di dunia dan celaka di akhirat kelak. (Q.S. Thaha[20]: 124).[5]

Setelah Allah menurunkan nabi Adam bersama Hawwa turun ke bumi, kemudian Allah menyampaikan kiat-kiat akan terjaga dari tipu daya Iblis dan para pengikutnya yaitu dengan senantiasa berpegang teguh dengan al-Qur’an. Diantara gangguannya melalui bisikan-bisikan yang menembus dada.[6] Allah swt berfirman:

فَوَسۡوَسَ لَهُمَا ٱلشَّيۡطَٰنُ لِيُبۡدِيَ لَهُمَا مَا وُۥرِيَ عَنۡهُمَا مِن سَوۡءَٰتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَىٰكُمَا رَبُّكُمَا عَنۡ هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةِ إِلَّآ أَن تَكُونَا مَلَكَيۡنِ أَوۡ تَكُونَا مِنَ ٱلۡخَٰلِدِينَ 21

“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar menampakkan aurat mereka (yang selama ini) tertutup. Dan (setan) berkata, ‘Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)’.” (Q.S. Al-A’raf[7]: 21).

Dalam sebuah pendapat, Al-Waswas sendiri di antara  nama setan yang tugasnya membisikan dada manusia. Dalam firman-Nya yang lain disampaikan:

مِن شَرِّ ٱلۡوَسۡوَاسِ ٱلۡخَنَّاسِ 4 ٱلَّذِي يُوَسۡوِسُ فِي صُدُورِ ٱلنَّاسِ 5

“Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” (Q.S. An-Nas/114: 4-5).

Siapa saja yang hatinya kosong dari al-Qur’an, maka setan akan dengan mudah menguasai hatinya sehingga hidupnya akan terombang ambing dan berada dalam kesusahan dan kesempitan. Rasulullah saw bersabda:

عن ابن عباس رضي الله عنهما قال ‏:‏ قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنْ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ. رواه الترمذي والدارمي والحاكم.

Dari Ibnu Abbas Radliyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Sesungguhnya orang yang di dalam dirinya tidak ada sedikit pun Al-Qur’an ibarat rumah yang runtuh.” (H.R. Tirmidzi, Darimi dan Hakim). 

Oleh karena itu, wajar jika Allah swt memperingatkan siapa saja yang berpaling dan jauh dari al-Qur’an maka baginya مَعِيشَةً ضَنكًا kehidupan yang sempit dan jauh dari kebahagiaan.

Dijelaskan, bahwa makna dari ذِكۡرِي adalah Al-Qur’an.[7] Ibnu Abbas mengatakan makna مَعِيشَةً ضَنكًا adalah kehidupan yang tidak bahagia atau jauh dari kebahagiaan, dan di akhirat pun akan masuk ke neraka jahanam sedangkan makanan mereka adalah duri dari neraka dan buah zaqum.[8] Dalam sebuah riwayat disampaikan:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّ قَطْرَةً مِنْ الزَّقُّومِ قُطِرَتْ فِي دَارِ الدُّنْيَا لَأَفْسَدَتْ عَلَى أَهْلِ الدُّنْيَا مَعَايِشَهُمْ فَكَيْفَ بِمَنْ يَكُونُ طَعَامَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Dari Ibnu Abbas berkata, Rasulullah saw bersabda “Kalau seandainya setetes Zaqqum (nama pohon di neraka) menetes ke kampung dunia, niscaya akan merusakkan kehidupan penduduk dunia. Lalu bagaimana dengan (keadaan) orang-orang yang menjadikan zaqqum sebagai makanannya?” (Abu Isa berkata, Ini hadits hasan shahih.[9]

Terdapat beberapa pendapat lain terkait makna dari ضَنْكًا di antaranya pendapat Ibnu Mas’ud, Abu Hurairah, Abu Said Al-Khudri maksudnya adalah azab kubur, bahkan sampai-sampai kubur itu menghimpitnya dan remuk tulang belulangnya yang demikian tidak akan berakhir sampai tiba hari kebangkitan. Al-Hasan mengatakan maksudnya adalah buah zaqum, duri neraka, cairan panas dari neraka. Ikrimah mengatakan maksudnya adalah seseorang itu akan terjerumus pada keharaman. Dan Adh-Dhahak mengatakan maksudnya adalah seseorang itu akan terjerumus pada pekerjaan yang kotor (diharamkan).[10]  

Asy-Syibli pernah ditanya terkait maksud ahlu al-bala’ pada sabda nabi saw yang berbunyi, “apabila kalian melihat ahlu al-bala’ maka mintakan kepada Allah baginya keafiatan.” Asy-Syibli menjelaskan bahwa maksudnya adalah mereka orang-orang yang lalai kepada Allah dan rasul-Nya akan Allah berikan hukuman dengan mengembalikannya kepada diri mereka sendiri yaitu tanpa memberikan pertolongan kepadanya, sungguh tiada kehidupan yang lebih sempit kecuali tidak adanya pertolongan dari Allah swt. Atha’ mengatakan yang dimaksud ضَنْكًا  adalah kehidupan orang kafir karena mereka tidak meyakini akan pahala dan hukuman.[11]

Al-Qusyairi mengatakan siapa yang berpaling dari mendawamkan dzikir kepada Allah maka maka akan terbuka baginya kewas-wasan dari setan, tertutupnya kemudahan dan kedamaian hati, akan didekatkan dirinya dengan seseorang yang buruk yang akan membuat hatinya tidak tenang bahkan selalu mengundang kegelisahan.[12] An-Nawawi mengatakan dzikir yang paling utama adalah al-Qur’an.[13]

Orang-orang yang berpaling dari peringatan Allah swt adalah mereka yang melakukan kemubadziran, mereka benar-benar telah menyia-nyiakan hidayah Allah swt yang ada di hadapan mereka, padahal hidayah adalah harta paling mahal, paling mulia dan paling mewah. Maka, sebuah keniscayaan jika Allah swt memberikan kehidupan yang sempit pada diri mereka bahkan mereka akan dibangkitkan kelak dalam keadaan buta.[14]

Jika mereka yang berpaling dari Al-Qur’an dan perintah agama akan mendapatkan hukuman sebagaimana penjelasan di atas. Maka, mereka yang mentaati dan menerima dengan hati yang pasrah akan mendapat kehidupan yang bahagia dan dipenuhi keberkahan. Sebagaimana dalam firman-Nya disampaikan:

فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

“Maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baikdan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. An-Nahl[16]: 97).[15]

وَهَٰذَا كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ مُبَارَكٞ فَٱتَّبِعُوهُ وَٱتَّقُواْ لَعَلَّكُمۡ تُرۡحَمُونَ

“Dan ini adalah Kitab (Al-Qur`ān) yang Kami turunkan dengan penuh berkah. Ikutilah, dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-An’am[6]: 155).

Daftar Pustaka

Al-Asqalani, Ibnu Hajar. Bulughul Maram Min Adillati Al-Ahkam. Beirut: al-Maktabah al-Ashriyah, 2019.

Al-Hudhabi, Ali Mohammad. 40 Hadits Untuk Pelajar Dan Penghafal Al-Qur’an. Jakarta: Yayasan Wakaf Alif Lam Mim, 2023.

Al-Qurthubi, Abu Abdillah Muhammad. Al-Jami Al-Ahkam Al-Qur’an. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2021.

Al-Qushairi. Tafsil Al-Qushairi Latha’if Al-Isyarat. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2007.

An-Nawawi, Abu Zakariya Yahya Bin Syaraf. At-Tibyan Fi Adabi Hamalati Al-Qur’an. Beirut Lebanon: Dar Ibnu Hazm, 2003.

Ar-Razi, Fakhruddin. At-Tafsir Al-Kabir Au Mafatihu Al-Ghaib. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2020.

As-Suyuthi, Jalaluddin. Ad-Durru Al-Mantsur Fi Tafsir Bi Al-Mantsur. al-Qahirah: Markaz Hijr Lil Buhuts wa ad-Disarasat al-Arabiyah wa Islamiyah, 2003.

As-Suyuthi, Jalaluddin Al-Mahalli dan. Tafsir Jalalain. Riyadl: Darussalam, 2002.

Ath-Thabari, Ibnu Jarir. Jami’ Al-Bayan Fi Takwil Al-Qur’an. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2014.

At-Tirmidzi, Abu Isa Muhammad Bin Isa. Jami’ At-Tirmidzi. Riyadl: Darussalam, 2009.

Az-Zamakhsyari, Umar. Tafsir Al-Kasyaf. Riyadl: Maktabah al-Abikan, 1998.

Bin Umar Al-Ujayli, Sulaiman. Al-Futuhat Al-Ilahiyah Bitaudhihi Tafsir Al-Jalalain Lil Daqa’iqi Al-Khafiya. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2018.

Mahmud Al-Alusiy, Syihabuddin As-Sayyid. Ruhul Ma’ani Fi Tafsir Al-Qur’an Wa As-Sab’i Al-Matsani. Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1994.

Mas’ud Al-Baghawi, Abu Muhammad Al-Husain Bin. Tafsir Al-Baghawi Ma’alim At-Tanzil. Riyadl: Dar Thaybah, 1992.

Quthb, Sayyid. Tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Jakarta: Gema Insani, 2001.


[1] Ali Mohammad Al-Hudhabi, 40 Hadits Untuk Pelajar Dan Penghafal Al-Qur’an (Jakarta: Yayasan Wakaf Alif Lam Mim, 2023), hal. 54.

[2] Abu Abdillah Muhammad Abu Abdillah Muhammad Al-Qurthubi, Al-Jami Al-Ahkam Al-Qur’an (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2021), juz. 3, hal. 213–214.

[3] Jalaluddin Al-Mahalli dan As-Suyuthi, Tafsir Jalalain (Riyadl: Darussalam, 2002), hal. 331-332.

[4] Ibnu Hajar Al-Asqalani, Bulughul Maram Min Adillati Al-Ahkam (Beirut: al-Maktabah al-Ashriyah, 2019), hal. 303.

[5] Jalaluddin Al-Mahalli dan As-Suyuthi, Tafsir Jalalain, hal. 331-332.

[6] Abu Abdillah Muhammad Al-Qurthubi, Al-Jami Al-Ahkam Al-Qur’an, juz. 7, hal. 115.

[7] Syihabuddin As-Sayyid Mahmud Al-Alusiy, Ruhul Ma’ani Fi Tafsir Al-Qur’an Wa As-Sab’i Al-Matsani (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 1994), jil. 16, hal. 276.

[8] Ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami’ Al-Bayan Fi Takwil Al-Qur’an (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2014), jil. 8, hal. 470.

[9] Abu Isa Muhammad Bin Isa At-Tirmidzi, Jami’ At-Tirmidzi (Riyadl: Darussalam, 2009), hal. 771.

[10] Abu Muhammad Al-Husain Bin Mas’ud Al-Baghawi, Tafsir Al-Baghawi Ma’alim At-Tanzil (Riyadl: Dar Thaybah, 1992), jil. 5, hal. 301.

[11] Fakhruddin Ar-Razi, At-Tafsir Al-Kabir Au Mafatihu Al-Ghaib (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2020), juz. 22, hal. 138.

[12] Al-Qushairi, Tafsil Al-Qushairi Latha’if Al-Isyarat (Beirut: Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, 2007), jil. 2, hal. 281.

[13] Abu Zakariya Yahya Bin Syaraf An-Nawawi, At-Tibyan Fi Adabi Hamalati Al-Qur’an (Beirut Lebanon: Dar Ibnu Hazm, 2003), hal. 14.

[14] Sayyid Quthb, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Jakarta: Gema Insani, 2001), jil. 8, hal. 34–35.

[15] Umar Az-Zamakhsyari, Tafsir Al-Kasyaf (Riyadl: Maktabah al-Abikan, 1998), jil. 4, hal. 117.

Exit mobile version