Example floating
Example floating
Example 728x250
Pendidikan

Pengaruh Mendengarkan Membaca dan Menghafal Al-Qur’an Terhadap Dimensia

168
×

Pengaruh Mendengarkan Membaca dan Menghafal Al-Qur’an Terhadap Dimensia

Share this article
ilustrasi - pixabay
Example 468x60

Nasrullah

Mahasiswa ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas PTIQ, Guru Al-Qur’an dan Bahasa Arab  SMK Muhammadiyah 7 Tebet Jakarta Selatan

Gunakan KUPON : DISKONQU (untuk mendapatkan diskon)
Example 300x600
Gunakan KUPON : DISKONQU (untuk mendapatkan diskon)

Pikun atau dimensia adalah kondisi yang sering kali menimpa orang lanjut usia, ditandai dengan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, dan fungsi mental lainnya. Di tengah upaya medis dan terapi modern, Al-Qur’an menawarkan pendekatan spiritual yang tidak kalah penting. Salah satunya adalah melalui pemahaman dan pengamalan kandungan Surat Al-Hajj ayat 5:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَعْثِ فَاِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُّطْفَةٍ ثُمَّ مِنْ عَلَقَةٍ ثُمَّ مِنْ مُّضْغَةٍ مُّخَلَّقَةٍ وَّغَيْرِ مُخَلَّقَةٍ لِّنُبَيِّنَ لَكُمْۗ وَنُقِرُّ فِى الْاَرْحَامِ مَا نَشَاۤءُ اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى ثُمَّ نُخْرِجُكُمْ طِفْلًا ثُمَّ لِتَبْلُغُوْٓا اَشُدَّكُمْۚ وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّتَوَفّٰى وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرَدُّ اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْلَا يَعْلَمَ مِنْۢ بَعْدِ عِلْمٍ شَيْـًٔاۗ وَتَرَى الْاَرْضَ هَامِدَةً فَاِذَآ اَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاۤءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ وَاَنْۢبَتَتْ مِنْ كُلِّ زَوْجٍۢ بَهِيْجٍ

Artinya : “Wahai manusia, jika kamu meragukan (hari) kebangkitan, sesungguhnya Kami telah menciptakan (orang tua) kamu (Nabi Adam) dari tanah, kemudian (kamu sebagai keturunannya Kami ciptakan) dari setetes mani, lalu segumpal darah, lalu segumpal daging, baik kejadiannya sempurna maupun tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepadamu (tanda kekuasaan Kami dalam penciptaan). Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan. Kemudian, Kami mengeluarkanmu sebagai bayi, lalu (Kami memeliharamu) hingga kamu mencapai usia dewasa. Di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) yang dikembalikan ke umur yang sangat tua sehingga dia tidak mengetahui lagi sesuatu yang pernah diketahuinya (pikun). Kamu lihat bumi itu kering. Jika Kami turunkan air (hujan) di atasnya, ia pun hidup dan menjadi subur serta menumbuhkan berbagai jenis (tetumbuhan) yang indah.”

Surat Al-Hajj ayat 5 berbicara tentang penciptaan manusia dan perubahan yang dialami sepanjang hidupnya, termasuk usia tua dan kondisi pikun. Ayat ini merupakan bagian dari penjelasan tentang kekuasaan Allah dalam menciptakan dan mengendalikan kehidupan, serta sebagai peringatan dan pelajaran bagi manusia agar mereka merenungkan kebesaran-Nya. Dalam konteks ini, ayat tersebut menggambarkan tahap-tahap kehidupan manusia dari penciptaan hingga kematian, termasuk fase usia lanjut yang sering kali ditandai dengan kelemahan fisik dan mental.

Pada awal ayat, Allah mengajak manusia untuk merenungkan asal-usul mereka, yaitu dari tanah, kemudian menjadi setetes mani, lalu segumpal darah, dan akhirnya berkembang menjadi janin dalam rahim ibu. Proses ini menunjukkan keajaiban penciptaan dan betapa kompleksnya perkembangan manusia sejak tahap paling awal. Ayat ini mengingatkan kita bahwa kehidupan adalah sebuah perjalanan panjang yang diatur oleh Allah, dan setiap tahapannya adalah tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya.

Selanjutnya, ayat ini menyebutkan bahwa di antara manusia ada yang meninggal pada usia muda, sementara yang lain mencapai usia lanjut, di mana mereka kembali ke kondisi yang sangat lemah, bahkan mungkin pikun. Kondisi pikun atau  اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ dalam ayat ini merujuk pada fase kehidupan ketika seseorang kehilangan banyak kemampuan yang dimilikinya saat muda. Ini adalah pengingat bahwa segala kekuatan dan kemampuan manusia pada akhirnya akan hilang seiring berjalannya waktu, dan manusia akan kembali lemah seperti saat mereka dilahirkan.

Dalam konteks yang lebih luas, ayat ini menegaskan bahwa siklus hidup manusia dari kekuatan menuju kelemahan adalah bagian dari rencana Allah yang sempurna. Kondisi pikun di usia tua adalah sebuah fase yang harus diterima dengan kesadaran penuh bahwa itu adalah bagian dari takdir dan hikmah Ilahi. Hal ini juga mengajarkan kita tentang pentingnya bersyukur atas setiap fase kehidupan dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kelemahan fisik dan mental di usia tua dengan ketabahan dan keimanan yang kuat.

Ikrimah Radhiallahu ‘Anhu dalam tafsir jalalain mengomentari istilah  اِلٰٓى اَرْذَلِ الْعُمُرِ yang berarti usia yang paling lemah atau usia senja, di mana seseorang sering kali mengalami penurunan kemampuan fisik dan mental. Menurut Ikrimah, salah satu cara efektif untuk menghindari kondisi ini adalah dengan rutin membaca Al-Qur’an. Membaca Al-Qur’an tidak hanya memberikan ketenangan batin dan spiritual, tetapi juga memiliki dampak positif pada kesehatan mental. Ikrimah percaya bahwa keterlibatan aktif dalam membaca kitab suci ini dapat membantu seseorang menjaga ketajaman pikiran dan mencegah penyakit pikun yang sering kali menyerang pada usia lanjut.

Banyak ulama terdahulu dan kontemporer yang meskipun sudah berusia lanjut, tetap memiliki daya ingat yang tajam dan tidak mengalami pikun. Beberapa contoh di antaranya adalah:

  1. Syaikh Abdul Aziz bin Baz: Beliau adalah salah satu ulama besar Saudi Arabia yang dikenal memiliki ingatan yang kuat hingga usia lanjut. Meskipun mengalami kebutaan sejak usia muda, beliau tetap mampu menghafal dan memahami banyak kitab, termasuk Al-Qur’an, dan terus aktif dalam memberikan fatwa dan mengajar hingga akhir hayatnya.
  2. Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi: Seorang ulama besar Mesir yang dikenal sebagai mufassir (ahli tafsir) Al-Qur’an. Beliau terus aktif mengajar dan menyampaikan tafsir Al-Qur’an hingga usia lanjut tanpa menunjukkan tanda-tanda pikun.
  3. Syaikh Yusuf Al-Qaradawi: Ulama kontemporer yang dikenal dengan karyanya yang melimpah dalam bidang fiqh dan dakwah. Beliau terus aktif menulis dan memberikan ceramah hingga usia senja.

Membaca Al-Qur’an bukan hanya merupakan bentuk ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah SWT, tetapi juga bisa menjadi terapi mental yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan otak dan mencegah penyakit pikun. Kisah-kisah ulama terdahulu dan kontemporer yang tetap memiliki daya ingat tajam hingga usia lanjut adalah bukti nyata dari manfaat membaca dan menghafal Al-Qur’an secara rutin. Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari ayat-ayat Allah SWT dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Example 300x600
Example 120x600