floating
floating
Example 728x250
BeritaHukum & Kriminalitas

Tuntut Penghapusan “Perbudakan Modern”, Ratusan Buruh Geruduk Gedung Danantara

1
×

Tuntut Penghapusan “Perbudakan Modern”, Ratusan Buruh Geruduk Gedung Danantara

Share this article
iklanExample 468x60

Radarcikarang.com [ ​JAKARTA ] – Gelombang unjuk rasa memadati depan Gedung Danantara, Jakarta, pada Selasa (10/2/2026). Ratusan pekerja yang tergabung dalam federasi ASPEK, SPN, dan aliansi KSPI turun ke jalan guna menyuarakan nasib para Pekerja Mitra Pos Indonesia yang dinilai telah lama diabaikan hak-hak dasarnya.

​Aksi yang berlangsung sejak Senin (9/2) hingga Selasa (10/2) ini menyoroti kondisi kerja memprihatinkan yang dialami oleh para mitra kerja PT Pos Indonesia. Para demonstran membawa spanduk berisi tuntutan agar praktik yang mereka sebut sebagai “penindasan dan perbudakan” segera dihentikan.

ads content

​Perwakilan massa aksi mengungkapkan bahwa sejak tahun 2019 hingga 2026, para Pekerja Mitra Pos Indonesia hidup dalam ketidakpastian. Beberapa poin utama yang menjadi sorotan dalam orasi tersebut antara lain:

​Ketiadaan Jaminan Sosial: Pekerja tidak mendapatkan perlindungan jaminan kesehatan maupun ketenagakerjaan.
​Status Kerja Mengambang: Tidak ada kejelasan mengenai status pekerjaan tetap.

​Hak Cuti Terabaikan: Pekerja dilaporkan tidak mendapatkan hak cuti maupun hari libur yang layak.

​Absennya THR: Selama kurun waktu tujuh tahun terakhir, para pekerja mitra mengaku tidak pernah menerima Tunjangan Hari Raya (THR).

​”Mereka bekerja layaknya budak. Jangankan jaminan sosial, sekadar THR pun tidak pernah mereka rasakan sejak 2019. Ini adalah penindasan terhadap anak bangsa di tubuh BUMN kita sendiri,” ujar salah satu orator pimpinan aksi.

​Dalam aksi tersebut, para buruh secara khusus melayangkan permohonan kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto. Mereka berharap orang nomor satu di Indonesia itu bersedia turun tangan untuk mengubah kebijakan di PT Pos Indonesia.

​”Kami tahu Pak Prabowo adalah sosok yang berpihak pada kaum lemah dan buruh. Kami memohon kepada Bapak untuk memberikan kebijakan yang adil agar rekan-rekan kami mendapatkan hak warga negara yang dasar: kehidupan layak, pendidikan, dan kesehatan bagi keluarga mereka,” lanjut perwakilan aksi.

​Hingga Selasa siang, massa aksi menyatakan kekecewaannya karena tidak ada satu pun pimpinan dari pihak Danantara yang bersedia menemui atau menerima perwakilan buruh untuk melakukan audiensi. Padahal, massa telah bertahan selama dua hari di lokasi tersebut.

​Para pengunjuk rasa menegaskan akan terus mengawal kasus ini hingga para pekerja mitra mendapatkan jaminan pekerjaan tetap dan kesejahteraan yang manusiawi, demi mendukung visi Indonesia maju yang dicita-citakan pemerintah.

Example 120x600

Tidak diijinkan untuk mengkopi konten

You cannot copy content of this page