floating
floating
Example 728x250
OpiniPendidikanTrending

Mata Rantai Prasyarat yang Terputus: Ketika Siswa di Cikarang Dipaksa Melangkah Tanpa Fondasi

17
×

Mata Rantai Prasyarat yang Terputus: Ketika Siswa di Cikarang Dipaksa Melangkah Tanpa Fondasi

Share this article
iklanExample 468x60

Ditulis oleh : Faiha Ainun Jauza

Dalam publikasi Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jawa Barat mengenai perkembangan Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan, Rapor Pendidikan 2024 menunjukkan bahwa 58,33% satuan pendidikan di Jawa Barat masih berada dalam kategori belum baik pada kemampuan numerasi. Angka ini memperlihatkan bahwa penguatan kemampuan dasar masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan dalam dunia pendidikan. Data ini memang menggambarkan kondisi Jawa Barat, dan Cikarang Utara juga termasuk bagian dari Jawa Barat. Tentu saja persoalan ini adalah pengingat bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa jauh materi telah disampaikan, melainkan juga dari seberapa kuat pemahaman yang berhasil dibangun oleh siswa.

ads content

Di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, persoalan fondasi belajar layak mendapat perhatian. Data Referensi Pendidikan Kemendikdasmen mencatat keberadaan 154 satuan pendidikan tingkat SD dan SMP di kecamatan ini. Banyaknya satuan pendidikan tersebut menunjukkan luasnya lingkungan pendidikan dasar yang perlu diperhatikan kualitas pembelajarannya. Akan tetapi, keberadaan sekolah saja tidak otomatis menjamin bahwa setiap siswa telah menguasai kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk melanjutkan pembelajaran ke tahap berikutnya.

Bayangkan seorang siswa yang telah duduk di kelas delapan, tetapi masih kesulitan memahami pecahan, menemukan gagasan utama dalam bacaan, atau menjelaskan alasan di balik sebuah jawaban. Di dalam kelas, ia tetap diminta mempelajari persamaan yang lebih rumit, membaca teks yang lebih panjang, dan menyelesaikan soal yang menuntut penalaran. Materi terus bergerak maju, sementara pemahamannya tertinggal di belakang. Ia mungkin mampu menyalin rumus dan menghafal definisi untuk menghadapi ujian, tetapi belum tentu memahami bagaimana pengetahuan tersebut bekerja. Dalam situasi seperti ini, siswa bukan semata-mata menghadapi materi yang semakin sulit, melainkan juga harus berjuang dengan fondasi yang belum sepenuhnya terbentuk.

Ketika Materi Berjalan Lebih Cepat daripada Pemahaman

Pembelajaran pada dasarnya merupakan rangkaian yang saling berkaitan. Kemampuan memahami bacaan membantu siswa menangkap informasi dalam berbagai mata pelajaran. Penguasaan operasi hitung menjadi dasar untuk mempelajari konsep matematika yang lebih kompleks. Demikian pula, kemampuan berpikir logis membantu siswa menghubungkan informasi, menguji jawaban, dan menyusun kesimpulan. Setiap kemampuan menjadi pijakan bagi kemampuan berikutnya. Ketika salah satu pijakan belum kokoh, langkah selanjutnya berisiko menjadi semakin berat.

Sayangnya, proses pembelajaran dapat terlalu berorientasi pada penyelesaian materi dan pencapaian target kurikulum. Guru dituntut menyampaikan berbagai kompetensi dalam waktu yang terbatas, sedangkan siswa diharapkan mengikuti perkembangan pembelajaran sesuai jenjang kelasnya. Akibatnya, kesulitan yang seharusnya dikenali dan diperbaiki sejak awal berpotensi terbawa ke tingkat berikutnya. Siswa yang belum memahami konsep dasar akhirnya harus mempelajari konsep lanjutan dengan bekal yang belum memadai.

Masalah ini tidak berarti bahwa guru sengaja mengabaikan kemampuan siswa. Keterbatasan waktu, perbedaan kemampuan dalam satu kelas, serta tuntutan penyelesaian kurikulum dapat membuat proses pembelajaran menjadi rumit. Namun, keadaan tersebut justru menunjukkan pentingnya mengubah cara memandang keberhasilan belajar. Menyelesaikan seluruh materi tidak selalu berarti seluruh siswa telah memahaminya. Pembelajaran seharusnya memberikan ruang bagi guru untuk mengetahui bagian yang telah dikuasai, bagian yang masih membingungkan, dan bantuan yang dibutuhkan setiap siswa.

Fondasi yang Rapuh Bukan Kesalahan Siswa Semata

Ketika siswa gagal memahami materi, mereka sering kali langsung dianggap kurang rajin, kurang fokus, atau tidak memiliki kemampuan yang cukup. Padahal, kesulitan belajar tidak selalu muncul karena kurangnya usaha. Seorang siswa bisa saja telah belajar berulang kali, tetapi tetap kesulitan karena konsep yang sedang dipelajarinya bergantung pada pengetahuan dasar yang belum ia kuasai.

Meminta siswa memahami materi lanjutan tanpa memeriksa pemahaman sebelumnya sama seperti meminta seseorang membangun lantai berikutnya ketika lantai di bawahnya belum kokoh. Bangunan itu mungkin tetap berdiri untuk sementara, tetapi kelemahannya akan semakin terasa ketika beban bertambah. Demikian pula dalam pembelajaran, ketidakpahaman terhadap satu konsep dapat memengaruhi pemahaman terhadap konsep-konsep berikutnya.

Oleh karena itu, siswa yang mengalami kesulitan tidak seharusnya hanya diberi lebih banyak soal atau diminta menghafal lebih banyak materi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk kembali memahami konsep yang belum dikuasai melalui penjelasan yang lebih sederhana, contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, latihan bertahap, dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhannya. Mengulang materi dasar bukanlah kemunduran. Justru, langkah tersebut dapat menjadi jalan untuk membangun pemahaman yang lebih kuat.

Mengajar Bukan Sekadar Menuntaskan Materi

Sekolah dan guru perlu memberikan perhatian yang lebih besar terhadap pemeriksaan pemahaman siswa sebelum beralih ke materi yang lebih kompleks. Pemeriksaan ini tidak harus selalu berbentuk ujian besar. Pertanyaan singkat, diskusi, latihan pemecahan masalah, atau kegiatan meminta siswa menjelaskan kembali konsep dengan kata-kata sendiri dapat membantu guru mengenali kesulitan belajar sejak awal.

Di Cikarang Utara, upaya tersebut dapat diterapkan dengan menyesuaikan pembelajaran terhadap kebutuhan siswa di setiap sekolah. Guru dapat mengidentifikasi kemampuan dasar yang masih perlu diperkuat, menyediakan kegiatan remedial yang berfokus pada konsep tertentu, serta memberikan pengayaan kepada siswa yang telah menguasainya. Sekolah juga dapat melibatkan orang tua dalam mendukung kebiasaan membaca, berhitung, dan belajar secara teratur di rumah. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berpusat pada target penyampaian materi, tetapi juga pada perkembangan pemahaman siswa.

Pemerintah daerah dan pihak sekolah pun perlu memanfaatkan hasil asesmen pendidikan untuk menentukan kebutuhan perbaikan yang nyata. Data seharusnya tidak berhenti sebagai angka dalam laporan, melainkan menjadi dasar untuk merancang pendampingan guru, menyediakan sumber belajar, dan mengevaluasi keberhasilan program pembelajaran. Untuk mengetahui kondisi siswa di Cikarang Utara secara lebih akurat, diperlukan pula data asesmen lokal yang menunjukkan kemampuan literasi dan numerasi mereka. Dengan data tersebut, perbaikan dapat diarahkan pada persoalan yang benar-benar ditemukan di lapangan, bukan sekadar berdasarkan dugaan.

Pada akhirnya, pendidikan tidak seharusnya memaksa semua siswa melangkah dengan kecepatan yang sama ketika mereka belum memiliki pijakan yang setara. Setiap siswa memang perlu didorong untuk berkembang, tetapi dorongan tersebut harus disertai dukungan yang sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Sekolah tidak cukup hanya memastikan bahwa siswa telah berhasil naik kelas; sekolah juga perlu memastikan bahwa mereka membawa pemahaman yang cukup untuk menghadapi tantangan berikutnya.

Mata rantai prasyarat yang terputus tidak akan tersambung hanya dengan menambah materi atau mempercepat pembelajaran. Ia juga membutuhkan keberanian untuk berhenti sejenak, memeriksa fondasi, dan memperbaiki bagian yang masih rapuh. Sebab, tujuan pendidikan bukan sekadar membuat siswa terus melangkah, melainkan memastikan bahwa setiap langkah membawa mereka menuju pemahaman yang lebih baik.

Example 120x600

Tidak diijinkan untuk mengkopi konten

You cannot copy content of this page